Bagaimana Menjadi Seorang Kejawen Sejati?
Caranya; puasa lah mutih Senin Kamis, pada saat menjalani puasa tersebut tanyakan pada diri sendiri (dasar2 Olah Roso), apakah Anda suka membohongi diri Anda sendiri? Kalau jawabannya, Anda suka membohongi diri Anda sendiri, maka Anda bukan orang yang cocok untuk Menjadi Seorang Kejawen....
Kejawen adalah orang yang memeluk Agami Jawi. Jawi sendiri memiliki arti dan makna : Berbudi Luhur. Jadi Agami Jawi bukan Agamanya orang Jawa saja, melainkan Agamanya orang yang ingin Berbudi Luhur...

Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani.
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Makna Kejawen bagi saya pribadi...

Awalnya saya selalu mencari-cari jati diri saya sendiri. Sampai satu saat, saya bergabung dengan Komunitas Pencinta Alam.

Mulailah saya mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas tersebut. Dari mulai naik gunung, hingga melakukan berbagai macam kegiatan sosial. Terasa kebersamaan yang teramat sangat di komunitas ini. Disinilah, awal jati diri saya terbentuk secara alami, dimana kita harus saling menolong tanpa ada unsur pamrih. Dan lebih lanjut saya belajar mengenai arti keikhlasan menolong itu sendiri. Sebab, jika kita sedang di atas Gunung, arti tolong menolong sudah tidak ada lagi, yang ada adalah kebersamaan.

Dan ketika arti kebersamaan itu muncul sebagai pola interaksi, maka keikhlasan menolong, atau kepasrahan untuk ditolong itu akan tumbuh dengan sendirinya.

Pola interaksi komunitas ini pada umumnya adalah, erat dan hangat satu sama lainnya. Tetapi terkadang terjadi gesekan yang sangat, ketika mereka mulai berdiskusi mengenai agama masing-masing.

Sampai satu saat diantara mereka, ada yang berdebat mengenai kemutlakan. Dimana mereka dapat saling mematahkan kemutlakan-kemutlakan dari masing-masing agama, lawan bicaranya.

Tidak etis kalau saya jabarkan, kemutlakan apa yang mereka perdebatkan. Tetapi yang jelas, membuat saya pada kesimpulan, bahwa kemutlakan masing-masing agama yang mereka anut, tidak menjadi mutlak, jika tidak diikuti dengan ke-Iman-an, masing-masing agama mereka sendiri.

Dari situlah saya mulai berfikir, mengenai apa dan bagaimana "Kemutlakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa," yang tidak dapat dipatahkan dengan dalil apapun, tanpa memakai kata-kata ke-Iman-an, yang notabene hanya sebagai kuncian, agar para penganut masing-masing agama tidak lari meninggalkan agama-nya, karena tidak dapat membuktikan dengan logika dan obyektifitas, lalu mencari agama lain yang lebih dapat diterima dengan nalar maupun perasaan.

Karena menurut saya, segala sesuatu yang masih bisa diubah-ubah oleh manusia adalah Ciptaan Manusia.

Dari makna itulah, saya mencoba mencari-cari dengan bertanya kepada om Google, ada gak ya, Agama yang menawarkan pembuktian kemutlakan Tuhan Yang Maha Esa, tanpa menggunakan kuncian Iman???

Hingga saya menemukan sebuah blog yang bertutur mengenai pengalaman pribadinya, mengenai kepindahan dari agama (hasil turun temurun tanpa ia pun mengerti), dan memeluk Agami Jawi. Yang lebih bijak lagi dari penulis Blog tersebut, dia mengatakan bahwa, semua orang dapat memulainya, dengan caranya masing-masing, tetapi pasti nantinya akan mendapatkan jalannya yang hakiki untuk berinteraksi dengan Ghusti.

Terimakasih sobat atas penjelasannya, semoga blog kamu tidak ditutup oleh DepKopInfo (yang mayoritas orang-orangnya pemeluk "Agama Import"), karena membuat pembelajaran yang positif (bagi kami yang berfikir logis dan Obyektif), dan memberi pencerahan, bahwa Agama adalah sesuatu yang sangat logis, tanpa ke-Iman-an yang subyektif dan mengada-ada, sambil menghilangkan kesempatan orang untuk berfikir, sehingga dengan mudah dapat dihasut menjadi Teroris.

Ternyata dunia Maya ini sangat berjasa bagi pencarian jati diri saya, om Google dengan tulus memberikan semua info yang saya butuhkan.
Dan mulai sejak itulah, saya menganut "Agami Jawi," agamanya leluhur orang-orang yang bermukim di Nusantara Indonesia ini.

Catatan :
Ayo kita junjung arti kecintaan produk dalam negeri. Sehingga ibu-ibu kita bisa memakai kebaya asli pakaian Indonesia.

Mengapa Kejawen Tidak Mempunyai Rasul

Dalam pemahaman Kedjawen, kita semua ini UtusanNya. Jadi kita tidak memerlukan Rasul atau Perantara, untuk dapat berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Inti dari Kejawen adalah Manunggaling Kawulo Ghusti. Karena dengan Manunggaling Kawulo Ghusti, kita mengerti arti kebenaran yang sesungguhnya dan seutuhnya.

Seorang Kejawen memiliki hubungan yang khusus kepada sang Pencipta, tidak perlu memakai Perantara untuk mencapainya.

Oleh karenanya, untuk menjadi seorang Kejawen Sejati, kita memerlukan usaha yang ekstra untuk memahaminya, melalui Olah Roso. Tetapi, ketika kita sudah mendapatkan pola interaksi yang sakral tersebut, semuanya akan lebih mudah, dibanding dengan ritual semua agama yang ada di dunia ini.

Agama Tuhan

Agama Tuhan
Agama Tuhan adalah, agama yang berorientasi pada satu Tuhan, atau yang disebut Tuhan Yang Maha Esa, dalam Kedjawen disebut sebagai Ghusti.

Proses adanya Tuhan dalam pikiran manusia, adalah karena adanya Olah Roso, dimana seorang Kejawen menemukan hubungan perasaan yang unik dengan zat yang dinamakan orang-orang di dunia ini; Allah, Tuhan, God, Ghusti.

Jadi jelas, tidak ada satu Agama pun di dunia ini, yang dibuat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan beberapa nalar matahati kita:

* Kita saja sebagai orang tua, tidak akan membiarkan atau merelakan anak-anak kita bertengkar satu sama lain. Apalagi Tuhan Yang Maha Esa.
* Banyak Agama yang meng-klaim Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tapi mereka bertengkar, bahkan sampai saling bunuh antara Agama yang mengklaim Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.
* Jadi, kalau memang ada Agama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, kita pasti hidup aman dan tentram.
* Kalau benar ada Agama Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, maka pasti tidak perlu dipelajari oleh Manusia. Karena pasti sudah inheren didalam pikiran kita, semenjak lahir.

Mengapa Kejawen difitnah

Agama-agama pendatang mempunyai kepentingan untuk merusak tatanan pemikiran kepercayaan penduduk asli. Hal ini dikarenakan, para pendatang yang membawa misi keagamaan itu, awalnya adalah merupakan perjalanan bisnis.

Demi kepentingan bisnisnya, melihat Kejawen yang memiliki “Kearifan Lokal”, para pebisnis agama tadi merasa gusar untuk bertindak sebagai kapitalis.

Apapun alasannya, sebuah bangsa yang menyebrangi lautan dengan misi bisnis, mereka adalah kelompok kapitalis, apapun dalihnya, karena dagang merupakan pengelolaan kapital demi keuntungan. Pengelolaan “Kapital” demi “Keuntungan”, inilah yang disebut “Kapitalis”.

Sehingga tidak mengherankan, agama-agama pendatang, juga memiliki pola pikir untuk mengambil keuntungan.

Jadi dalam rangka menculasi penduduk asli yang Berbudi Luhur (yang tidak punya buruk sangka), sebagai obyek mereka untuk dieksploitasi secara ekonomi.

Etimologi

Kejawen adalah sebuah Agama Lokal pertama yang lahir di Indonesia, yang dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa, dan sukubangsa lainnya yang tinggal atau menetap di pulau Jawa.

Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawi, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia, yaitu seorang yang Berbudi Luhur. Sehingga Kejawen juga sebagai sebutan/predikat bagi pemeluk "Agami Jawi", sebagai contoh, seperti pemeluk agama Islam disebut sebagai Muslim.

Dalam konteks umum, kejawen merupakan Agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang Agama ini, dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut "Agami Jawi".

Penganut ajaran untuk Kejawen biasanya, menganggap ajarannya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah prilaku orang yang beradap.

Ajaran kejawen biasanya bertumpu pada konsep "Keseimbangan". Dalam pandangan demikian, Kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya.

Tetapi kini, bagi Kejawen Sejati, dengan Olah Roso, kita paham bahwa untuk berkomunikasi dengan Ghusti, kita dapat menggunakan suara hati, apapun bahasanya.

Catatan :
Agami Jawi, tidak menjadi monopoli orang-orang Jawa semata. Agami Jawi, Agamanya orang-orang yang ingin dapat Berbudi Luhur... Bahkan Agami Jawi ini, dapat diterapkan di belahan dunia manapun.

Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Mengapa kita perlu membicarakan Kosa Kata Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, hal ini mengingat banyak klaim dari beberapa Agama yang menyatakan bahwa Agama tersebut adalah Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Kita dapat bedakan menjadi dua definisi :

1. Ciptaan Tuhan secara langsung; adalah berbagai hal yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, tanpa perantara apapun.
  • Kehidupan
  • Nafas
  • dlsb
  • Atau yang disebut juga Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

2. Ciptaan Tuhan secara tidak langsung; adalah berbagai hal yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, melalui perantaraan manusia yang dipintarkan.
  • Mobil Motor
  • Agama
  • dlsb
  • Atau yang disebut juga buatan Manusia

Catatan :
Jadi jelas, Agama adalah buatan Manusia, karena di Indonesia saja secara formalitas ada 5 Agama, dimana satu dan yang lainnya terkadang berhantam-hantaman adu argumentasi, bahkan bunuh-bunuhan.
Kalau Agama-agama tersebut, benar-benar buatan Tuhan Yang Maha Esa, maka tidak mungkin mereka akan saling baku hantam sendiri. Memangnya Tuhan Yang Maha Esa, seorang sosiolog yang baru semester I, sehingga tidak bisa menggunakan manajemen konflik secara benar. Untuk menghindari konflik itu sendiri.

Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani.