Bagaimana Menjadi Seorang Kejawen Sejati?
Caranya; puasa lah mutih Senin Kamis, pada saat menjalani puasa tersebut tanyakan pada diri sendiri (dasar2 Olah Roso), apakah Anda suka membohongi diri Anda sendiri? Kalau jawabannya, Anda suka membohongi diri Anda sendiri, maka Anda bukan orang yang cocok untuk Menjadi Seorang Kejawen....
Kejawen adalah orang yang memeluk Agami Jawi. Jawi sendiri memiliki arti dan makna : Berbudi Luhur. Jadi Agami Jawi bukan Agamanya orang Jawa saja, melainkan Agamanya orang yang ingin Berbudi Luhur...

Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani.

Sesajen atau Sajian

Mengapa seorang Kejawen Sejati memberikan Sesajen?
Hal ini dikarenakan oleh tata krama sopan santun kepada Pihak Lain (Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, Orang Lain, dlsb), yang harus dicerminkan oleh seorang Kejawen.

Analoginya, dengan kita menyembah Ghusti, tidak berarti kita tidak menyuguhkan kenalan atau tetangga kita yang berkunjung ke rumah kita. Dalam kehidupan ini, Agama mana yang tidak mempercayai alam gaib, atau kehidupan lain di bumi ini? Dalam Kedjawen, kepercayaan itu dituangkan pula dalam pola sopan santun kepada “Mahluk Halus” yang termasuk dalam kategori Pihak Lain (Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, Orang Lain, dlsb) yang ada di sekitar kita.

Atau sebaliknya, jika kita menyuguhkan sajian kepada tamu kita yang datang ke rumah kita, apakah artinya kita menyembah tamu kita tersebut?
Jawabannya; tentu tidak khan!

Mengapa malam Jumat?
Seorang Kejawen mempercayai, bahwa malam Jumat adalah malam dimana para “Sesepuh” (baik itu mahluk halus maupun orang tua/saudara/kerabat yang sudah tidak ada) mengunjungi anak wayahnya.

Apa yang disuguhkan?
Untuk menghormati para “Sesepuh”, kita sebaiknya menyuguhkan hidangan seperti layaknya menyuguhkan tamu kita, minuman (Teh atau Kopi - tidak menutup kemungkinan jika kita juga ingin menyediakan rokok, bunga melati - sebagai wangi-wangian, dlsb) sebagai simbol penghormatan kita kepada para “Sesepuh” atau tamu kita. Jadi, hal ini merupakan bentuk sopan santun kita kepada para “Sesepuh”, maupun "Mahluk Halus" yang kita rasa sering berkunjung ke rumah kita.

Mengapa disebut Sesepuh?
Karena mereka umumnya mempunyai umur yang jauh di atas kita. Sehingga mereka layak disebut "Sesepuh". Begitu juga Kakek Buyut kita atau Orang Tua kita yang sudah meninggal. Dimana mereka selalu menengok anak cucu-nya pada malam Jumat.

Jadi kita tidak menyembah Sesepuh kita melebihi Ghusti?
Absolut tidak. Kalau dibalik dengan pertanyaan. Apakah Anda menyuguhkan kenalan Anda waktu mereka bertamu ke rumah Anda, berarti Anda menyembah tamu Anda?

Mengapa waktu memberikan Sesajen, bersikap seolah menyembah?
Ini memang ada kesalahan gesture antara menyembah Ghusti, dengan memberi hormat kepada “Sesepuh”.

Sebenarnya dalam Kejawen menjembah Ghusti, tangan diletakan diatas kepala atau bersentuhan dengan dahi.
Yang memiliki makna; Posisi Ghusti adalah absolut di atas segala-galanya

Sedangkan untuk memberi salam hormat kepada “Sesepuh” tangan/jempol menyentuh dagu. Yang memiliki makna; bahwa seorang Kejawen tidak boleh berbuat sembrono/sembarangan (baik prilaku maupun bertutur kata), kepada orang atau mahluk yang lebih sepuh.

Sementara memberi salam hormat kepada sesama adalah dengan tangan/jempol menyentuh dada.
Yang memiliki makna; bahwa seorang kejawen menghormati sesamanya, dengan hati yang tulus dan ikhlas

Catatan:
Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan "Sopan Santun" dengan Pihak Lain (Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, Orang Lain, dlsb)

Empat Sila Utama Pola Hubungan

Berprilaku dengan 4 Sila Dasar Utama Pola Hubungan dengan apa yang ada di luar diri kita :

1. "Eling Lan Bekti marang Ghusti Kang Murbeng Dumadi" : artinya, kita yang Eling, seyogyanya harus selalu mengingat dan menyembah Ghusti (Tuhan Yang Maha Esa) dalam setiap tarikan nafas kita. Dimana Ghusti yang Esa telah memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup dan berkarya di alam yang Indah ini.

2. “Setyo marang Penggede Negoto”: artinya, sebagai manusia yang tinggal dan hidup di suatu wilayah, maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarkan pemimpinnya yang baik dan bijaksana.

3. “Bekti marang Bhumi Nusontoro” artinya, sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nusantara ini, wajar dan wajib untuk merawat dan memperlakukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya. Dengan berbakti dan menjaga kelestarian Alam, maka alam akan memberikan yang terbaik untuk kita yang hidup di atasnya.

4. “Bekti Marang Wong Tuwo” : artinya, kita tidak dengan serta merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara Ibu dan Ayah, maka hormatilah, mulyakanlah orang tua yang telah merawat kita. Berbakti kepada Ayah dan Ibu yang telah memberikan kita jalan untuk meraih kehidupan disini.

5. “Bekti Marang sedulur Tuwo” : artinya, menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti dari pada kita, baik tua secara umur, secara derajat, pengetahuan maupun kemampuannya.

6. “Tresno marang kabeh kawulo Mudo” : artinya, menyayangi kawulo yang lebih muda, memberikan bimbingan, dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda. Dengan harapan, yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

7. “Tresno marang sepepadaning manungso” : artinya, yang perlu diingat dan dicamkan dalam hati yang terdalam adalah, bahwa semua manusia sama nilainya dihadapan Ghusti". Karenanya, hormatilah sesamamu, dimana mereka memiliki harkat dan martabat yang sama dengan mu, dan sederajat dengan manusia lainnya. cintailah sesamamu dengan tulus ikhlas.

8. “Tresno marang sepepadaning Urip” : artinya, semua yang di ciptakan Ghusti adalah mahluk yang ada karena kehendak Ghusti yang Kuasa, karena mereka memiliki fungsi masing masing, dalam melestarikan kita bersama alam ini. Dengan menghormati semua ciptaanNya, maka kitapun telah menghargai dan menghormatiNya.

9. “Hormat marang kabeh agomo “ : artinya, hormatilah semua agama atau aliran, dan para penganutnya. Agama adalah ageming aji, yang mengatur dan menata diri meng-Olah Roso untuk menjadikan manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur.

10. “Percoyo marang Hukum Alam” : artinya, selain Ghusti menurunkan kehidupan, Ghusti juga menurunkan Hukum Alam dan menjadi hukum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai. Kita ini hidup di alam dualitas, dan akan terikat dengan hukum-hukum yang ada selama masih berdiam di pangkuan alam tersebut, dan hormatilah alam dan hukumnya.

11. “Percoyo marang kepribaden dhewe tan owah gingsir” : artinya, manusia ini rapuh, dan hatinya berubah-ubah, maka hendaklah menyadarinya, dan dapat menempatkan diri di hadapan Ghusti, agar selalu mendapat lindungan dan rahmatNya, dalam menjalani Hidup dan kehidupan ini. Dengan terus melakukan Olah Roso, berarti kita terus menata diri demi meraih pribadi yang berbudi pekerti luhur memayu hayuning bawono.

12. “Bekti Marang Mahluk Lainnya” : artinya, menghormati mahluk lain ciptaanNya juga, seperti ia menghormati manusia lainnya "Tresno marang sepepadaning manungso"

12 Makna di atas sebenarnya merupakan penjabaran, bagaimana sebaiknya seorang Kejawen harus berprilaku dengan 4 Sila Dasar Utama Pola Hubungan dengan apa yang ada di luar dirinya:
1. Hubungan Manusia dengan Ghusti (Tuhan Yang Maha Esa)
2. Hubungan Manusia dengan Alam Semesta
3. Hubungan Manusia dengan Mahluk lain
4. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia

Dalam urutan di atas, jelas, bahwa Hubungan Manusia dengan sesama Manusia adalah hubungan yang paling Rendah. Di sinilah filosofinya, bahwa Manusia harus menyayangi semua kehidupan, agar hidup ini bahagia. Jadi seorang Kejawen Sejati, jangan pernah mengatakan bahwa Manusialah mahluk yang paling sempurna. Karena pikiran itu, akan membuat diri ini ingin menang sendiri.

Catatan:
Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan "Sopan Santun" dengan Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb)

Menyayangi semua kehidupan bukan berarti memberi toleransi pada kejahatan yang dilakukan oleh Pihak Lain (Orang lain, dan Mahluk Lain)

Puasa

Apapun nama dan pelaksanaannya, bila dilakukan dengan niat yang tulus, maka tak mungkin akan membuat manusia yang melakoninya akan celaka. Intinya adalah, ketika seseorang berpuasa dengan ikhlas, maka orang tersebut akan terbersihkan tubuh fisik dan eteriknya dari segala macam kotoran.

Bahkan medis mampu membuktikan, betapa puasa memberikan efek yang baik bagi tubuh, terutama untuk mengistirahatkan organ-organ pencernaan.

Berbagai Macam Puasa bagi seorang Kejawen

1. Mutih
Dalam puasa mutih ini, kita tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tidak boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air putih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya, dan membaca doa : “niat ingsun mutih, mutihaken awak kang reged, putih kaya bocah mentas lahirdipun semua karena Gusti.”

2. Ngeruh
Dalam melakoni puasa ini, kita hanya boleh memakan Sayuran / Buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan Daging, Ikan, Telur dsb.

3. Ngebleng
Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh Makan, Minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.

4. Patigeni
Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaannya adalah, tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Ini adalah doa puasa patigeni : “niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka karena Gusti”.

5. Ngelowong
Puasa ini lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas. Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong, dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.

6. Ngrowot
Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari jam 3 pagi sampai jam 18. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini, hanya boleh makan buah-buahan saja! Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu, tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.

7. Nganyep
Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih, perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.

8. Ngidang
Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.

9. Ngepel
Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.

10. Ngasrep
Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.

11. Senin-Kamis
Puasa ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya. Dari jam 3 pagi sampai jam 18.

12. Wungon
Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.

Dosa

Bagaimana seorang Kejawen melihat Dosa?
Dosa adalah perasaan yang timbul sebagai hasil dari perbuatan yang merugikan pihak lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb)

Bagaimana kita bisa merasa berdosa?
Dalam "Budi Jawi" yang dipentingkan adalah Olah Roso, karena dari Olah Roso, maka kita tahu apakah sebuah perbuatan itu benar atau salah. Untuk memudahkan, perasaan seseorang selalu dikembalikan kepada dirinya sendiri. Sebagai contoh, jika kita memukul orang lain, bagaimana kalau kita dipukul oleh orang lain? Karena rasa sakit itu akan ada kesamaannya, jika kita yang dipukul.

Apakah Dosa dicatat oleh Ghusti?
Ghusti tidak mencatat dosa kita. Yang mencatat adalah diri kita sendiri (Kalau di-analogi-kan saat ini - setiap Manusia membawa Smart Chips nya masing-masing). Semua berpulang pada keikhlasan kita masing-masing. Apakah kita dapat berbuat ikhlas dalam kondisi yang dibalik? Jawabannya ada pada Olah Roso.

Apa itu Roso dalam Budi Jawi?
Roso merupakan sebuah atmosfir dalam diri seseorang yang diterjemahkan oleh hati, panca indra, dan pikiran kita sendiri.

Dapatkah Roso, kita bohongi atau berbohong kepada kita?
Kalau kita menjalankan dengan baik dan ikhlas, serta menggunakan hati nurani, panca indra dan pikiran kita sendiri, maka Roso itu tidak dapat berbohong atau dibohongi.


Catatan:
Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan "Sopan Santun" dengan Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb)

Agama Tuhan

Agama Tuhan
Agama Tuhan adalah, agama yang berorientasi pada satu Tuhan, atau yang disebut Tuhan Yang Maha Esa, dalam Kedjawen disebut sebagai Ghusti.

Proses adanya Tuhan dalam pikiran manusia, adalah karena adanya Olah Roso, dimana seorang Kejawen menemukan hubungan perasaan yang unik dengan zat yang dinamakan orang-orang di dunia ini; Allah, Tuhan, God, Ghusti.

Jadi jelas, tidak ada satu Agama pun di dunia ini, yang dibuat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan beberapa nalar matahati kita:

* Kita saja sebagai orang tua, tidak akan membiarkan atau merelakan anak-anak kita bertengkar satu sama lain. Apalagi Tuhan Yang Maha Esa.
* Banyak Agama yang meng-klaim Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tapi mereka bertengkar, bahkan sampai saling bunuh antara Agama yang mengklaim Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.
* Jadi, kalau memang ada Agama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, kita pasti hidup aman dan tentram.
* Kalau benar ada Agama Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, maka pasti tidak perlu dipelajari oleh Manusia. Karena pasti sudah inheren didalam pikiran kita, semenjak lahir.

Makna Kejawen: Berpakaian dan Bertutur Kata

Agama adalah bukan sesuatu yang perlu diperlihatkan dalam kaitannya dengan eksistensi seseorang. Memang, ada agama yang memiliki fashion sendiri, untuk mencirikan agama mereka.
Kalau hal itu yang menjadi esensi dari orang-orang yang memeluknya, itu sama saja orang-orang tersebut membeli barang abal-abal, yang penting seolah-olah mereka memiliki barang yang asli.

Berpakaianlah yang sopan dan bertutur katalah yang santun, kalau kita ingin menjadi seorang Kejawen Sejati. Dari Sopan Santun kita, tentunya kita akan memperkecil kemungkinan menyakiti pihak lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb). Dengan menjaga sopan santun tadi, sesungguhnya itu merupakan hal dasar, kalau kita ingin mengakui dalam hati, bahwa kita adalah seorang Kejawen Sejati.

Mengapa Kejawen difitnah

Agama-agama pendatang mempunyai kepentingan untuk merusak tatanan pemikiran kepercayaan penduduk asli. Hal ini dikarenakan, para pendatang yang membawa misi keagamaan itu, awalnya adalah merupakan perjalanan bisnis.

Demi kepentingan bisnisnya, melihat Kejawen yang memiliki “Kearifan Lokal”, para pebisnis agama tadi merasa gusar untuk bertindak sebagai kapitalis.

Apapun alasannya, sebuah bangsa yang menyebrangi lautan dengan misi bisnis, mereka adalah kelompok kapitalis, apapun dalihnya, karena dagang merupakan pengelolaan kapital demi keuntungan. Pengelolaan “Kapital” demi “Keuntungan”, inilah yang disebut “Kapitalis”.

Sehingga tidak mengherankan, agama-agama pendatang, juga memiliki pola pikir untuk mengambil keuntungan.

Jadi dalam rangka menculasi penduduk asli yang Berbudi Luhur (yang tidak punya buruk sangka), sebagai obyek mereka untuk dieksploitasi secara ekonomi.

Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani.